Rumah Bedjo, sekilas mungkin kata ini terdengar agak aneh dan ‘ndeso’. Namun, di balik keanehan nama Rumah Bedjo, tersimpan hal – hal yang luar biasa. Nah, apa itu Rumah Bedjo? Yuk kita intip!!!🙂

Menuntut ilmu di kampus yang kental dengan jiwa kerakyatannya, tak akan membuat kita lupa untuk saling berbagi. Apalagi, sebagai mahasiswa UGM yang menerima beasiswa Karya Salemba Empat (KSE), kita tak bisa selamanya menerima. Ada saatnya bagi kita untuk memberi. Rumah Bedjo inilah salah satu buah karyanya.

Rumah Bedjo merupakan singkatan dari ‘rumah belajar kantor idjo’ yang didirikan oleh Paguyuban KSE UGM sebagai salah satu program kerja departemen sosial kemasyarakatan di mana terdapat kegiatan pendampingan belajar dan sarana bermain edukatif nonbiaya yang ditujukan untuk anak-anak usia sekolah. ‘Kantor idjo’ atau ‘kardjo’ adalah sebutan dari kantor Paguyuban KSE UGM yang khas dengan warna hijau cerahnya. Sedangkan, ‘bedjo’ berarti beruntung atau bermanfaat. Kata orang, nama adalah doa. Dari Rumah Bedjo ini diharapkan akan memberikan keberuntungan atau kemanfaatan bagi semua orang yang terlibat di dalamnya, baik peserta didik maupun tim pengajar dan pengurus.

Sejak dilaunching pada tanggal 30 November 2011 lalu jumlah anak-anak yang antusias untuk bergabung semakin bertambah. Kegiatan ‘Bedjo’ baru dilaksanakan sekali dalam sepekan, yaitu tiap Hari Rabu, serta waktu insidental, seperti saat ulangan umum. Namun, hingga saat ini sudah ada 30 anak yang bersemangat ingin belajar bersama di Rumah Bedjo, mulai dari anak TK hingga SD kelas 6. Mayoritas siswa Rumah Bedjo ini berasal dari warga sekitar kantor paguyuban di Mranggen Kidul Sleman. Peserta didik Rumah Bedjo ini dapat dipanggil dengan ‘Adik Bedjo’.

3

Kapal tak akan dapat berjalan tanpa nahkoda dan awak kapal. Sama seperti Rumah Bedjo, agar lebih terkoordinasi dan terarah dalam menjalankan programnya, Rumah Bedjo juga memiliki tim yang solid dan mampu menjalankan fungsi masing-masing. Pasukan Rumah Bedjo terdiri atas koordinator umum (korum), koordinator kelas (kolas), koordinator kurikulum (kolum), koordinator humas (kormas), koordinator pustaka (korpus), koordinator kesekretariatan (korsek), koordinator perlengkapan (korkap), dan tutor. Awak Rumah Bedjo yang berjumlah 22 orang ini dipilih melalui proses open recruitment bagi seluruh mahasiswa penerima beasiswa KSE UGM. Patriot-patriot inilah yang nantinya dapat dipanggil ‘Kakak Bedjo’.

1

Berbeda dengan pendidikan formal yang saat ini cenderung mengembangkan aspek kognitif saja, proses pendidikan di Rumah Bedjo berupaya untuk mengoptimalkan potensi peserta didik yang beragam dengan metode yang sesuai dengan kecenderungan gaya belajar mereka untuk mengembangkan kemampuan afektif dan psikomotorik. Pola belajar yang dirancang saat ini menggunakan pendekatan kelompok-kelompok belajar sesuai dengan kelasnya. Sejauh ini terdapat empat bidang yang dapat dipilih dan diikuti peserta didik sesuai minatnya, antara lain: sains, bahasa, sosial humaniora dan keterampilan. Sarana edukasi moral dan pengembangan kreativitas juga akan diupayakan di sini agar generasi bangsa ini tidak akan terseret oleh arus negatif peradaban dan meningkatkan optimisme mereka dalam meraih segala cita-cita.

2

Selain kegiatan belajar mengajar Kegiatan Rumah Bedjo juga memiliki beberapa kegiatan yang berfungsi untuk menambah wawasan global mereka serta kemampuan leadership adik-adik bedjo, diantaranya: “Meet & Greet with Foreigner (Jappanese & Aussie)” serta “Outbond Ceria Rumah Bedjo”.

Suasana tampak semakin bersemangat ketika Rumah Bedjo kedatangan tamu dari Jepang yang bernama Narimi dan Aki, serta dari Australia yang bernama Stephanie. Dalam “Meet and Greet” ini kami bertukar kebudayaan masing-masing, seperti bahasa, games tradisional, makanan khas dan tempat-tempat wisata. Canda tawa menguasai kami,  wawasan dan teman baru pun juga kami dapatkan dalam memorial singkat ini.

4

Outbond Ceria disemarakkan dengan aneka games edukatif, diantaranya: estafet air, pesan berantai, serangan buaya, rangkai huruf, dan susun gambar. Tak hanya itu saja, seusai games dilakukan pula pemaknaan games, karena tak sedikit pelajaran yang bisa dipetik dari games itu, seperti teamwork, kepemimpinan, kepercayaan, sportivitas, kreativitas dan sebagainya. Dan tentu saja, yang membuat kakak Bedjo kagum dan bangga, adik-adik bisa benar-benar mampu menerapkan seluruh karakteristik itu. Dari outbond ini diharapkan dapat membentuk kepribadian adik-adik Bedjo selagi mereka masih muda agar menjadi pribadi yang unggul sebagai tunas penerus cita-cita bangsa.

5    7

6